Langsung ke konten utama

Dengan berempati kita dapat menghentikan Budaya Kekerasan #MugshotChallenge

www.instagram.com/#MugshotChallenge

Nampaknya, kebosanan Self-quarantime  ditengah pandemik ini membuat kebanyakan orang semakin kreatif dalam membuat berbagai tantangan. Mulai dari Until Tommorow Challenge, Dalgona Coffe, Dissert, sampai ala ala dikira pake mungkena dan peci mau ibadah ternyata tiktokan ala ala. Dan belum lama ini  sekitar seminggu yang lalu, muncul lagi tren bernama Mugshot Challenge yang mengandung sedikit banyak kontroversial.
Tulisan ini berawal dari unggahan snap wa saya, yang me-posting video adik lucuku dengan mengungkapkan rasa rindu berMake-up ala ala yang sedang ramai di Instagram, yaitu MugshotChallenge. Lalu sedikit banyaknya saya di education oleh senior saya di lingkar Feminis tentang hal ini. Setelah banyak yang ia jelaskan saya mulai searching akun-akun, artikel, opini , dan lain sebagainya prihal ini.
Mungkin, Sahabat-sahabtku belum mengetahui apa si MugshotChallenge? Dan apa tujuannya?. Saya sedikit menginformasikan bahwa MugshotChallenge adalah foto yang diambil polisi ketika seseorang ditangkap dan terlibat dalam kasus. Kemudian, sekitar seminggu yang lalu ada beberapa influencer membuat konten Challenge Mugshot mengajak pengguna untuk berias wajah seperti penuh luka lebam atau berdarah. Pengguna kemudian mengunggah foto wajah yang sudah dirias tersebut ke akun social media pribadi (Instagram, wa, facebook, Twitter, Telegram,) dengan menggunakan #MugshotChallenge dan caption seperti “KDRT”, “digebukin Mantan”, atau ada pula dengan nada canda “jadi gini, impact nahan rindu berminggu-minggu”. dan ternyata banyak yang suka dan tertarik dengan konten ini. Sahabat-sahabat bisa searching menggunakan #MugshotChallenge maka akan muncul beribu-ribu akun yang mengikuti konten ini.
Namun, konten ini memiliki respon negative. Contohnya, salah satu artis Twitter, ia dianggap kurang sensitive, tidak bertanggung jawab dan dianggap mengecilkan kekerasan dalam rumah tangga. Salah seorang Netizen Twitter juga mengatakan bahwa MugshotChallenge mengingatkan pada dua operasi hidung yang harus ia lakukan akibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alaminya. Next, pada salah satu akun Influencer di instagram mendapatkan komentar dari netizen yang membuatnya mengingat kembali trauma yang ia alami. Akhirnya ia membuat klarifikasi dan meminta para followersnya untuk take down postingannya karena mungkin kita belum terlalu mengerti karena kita gapernah di posisi korban abuse, mau sekeren apapun makeupnya, ga worth it kalau  membuat orang lain sedih atau sakit. Aku gak nyangka impact nya sampai seperti ini, aku juga merasa aku punya platform sebesar ini justru mengajak ikut trend yang kurang baik, maafinaku sekali lagi dan aku akan berusaha jadi lebih baik. –klarfikasinya-
Komisioner Komnas Perempuan, Mariana mengatakan “Mugshotchallenge dan unggahan tersebut tak masalah sepanjang tidak untuk menghapus empati terhadap kondisi-kondisi serius. Namun ia berpendapat, public juga perlu belajar dan berlatih terus menerus untuk berempati”.
Komisioner Komnas Perempuan, Siti Amniah Tardi menilai MugshotChallenge itu tak sensitive pada korban kekerasan. Namun ia mengakui, sebagai ekspresi, tantangan Mugshotchallenge itu tak bisa dilarang. Meski demikian, yang perlu dibangun dari public adalah kepekaan dan control diri termasuk dalam mengikuti tantangan ini. Ia pun mengajak warganet untuk memilih tantangan yang lebih mempertimbangkan perasaan korban keberpihakan untuk menghapus kekerasan.
“ Dengan memilih tantangan yang tidak mengandung pembenaran terhadap kekerasan, berarti kita menghentikan budaya kekerasan “,-

Mungkin, sebagian kita menganggap ini sebagai kreativan saja, kenapa dilarang-larang? Dan mengapa pesta kostum atau film action, thiriller tidak masalah? Jelas, karena ada disclaimer, ada tujuan sendiri untuk kebutuhan tertentu. Sedangkan dalam tantangan #MugshotChallenge  itu hanya sebuah tantangan babak belur, berdarah-darah, dan dengan bangganya membuat caption betapa kerennya menjadi kriminal, habis membunuh mantan, ada pula yang membuat caption “Mental disorder”. Tanpa ada empati kepada pemilik  mental disorder yang memang membutuh pertolongan.
Sahabat-sahabat, saya mengerti bahwa kita semua jenuh, bosan, ingin keluar rumah, ingin bertemu teman, kekasih, kerabat, guru dan lain-lain. Sehingga dari demikian kita melampiaskan ini semua di social media dengan segala ke kreatifan kita semua. Hal ini sama sekali tidak dilarang, hanya saja kita semua harus belajar menggunakan ini dengan sebaik-baiknya tanpa perlu ada yang merasa sedih atau sakit karena sesuatu yang kita posting. Sesekali mungkin sebelum tidur kita merenungi , bagaimana jika kita yang menjadi korban KDRT, kekerasan seksual,kriminalitas yang habis babak belur dan berdarah- darah sehingga mengalami trauma yang begitu dalam. Bukankah, dengan kita melihat foto itu kita akan mengingat kembali kejadian tersebut?

Komentar

  1. Terus menebar hal positif seperti ini ka🙏. Ceritnya bagus

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRIA ITU MENGAJAKKU MENIKAH? SECEPAT ITU? PADAHAL KITA TAK SALING KENAL? MENGAPA?

https://www.islampos.com/aku-menginginkan-istri-sholihah-40597/ Dia dengan cepat mengajakku menikah, walaupun kita belum saling kenal dan bertemu satu sama lain. Kita hanya berteman via online, namun beberapa kali ia memintaku bertemu dan mengajak nikah. Spontan, saya berfikir “ Lho, apa yang pria itu fikirkan? Mengapa dia punya niat menikahi ku? Padahal dia hanya sebatas followers ku saja “.   Semua pertanyaan seolah terproduksi dalam fikiran saya. Hingga pada saat yang bersamaan, saya mencoba diskusi mengenai hal ini bersama Ketua PC PMII Kab. Bekasi masa Khidmat 2019-2020, Sahabat Dedi Ambaryadi. Saya bertanya beberapa hal yang ada di fikiran saya, dan mengapa disini saya mengajak laki-laki untuk berdiskusi? Ya, Karena saya pribadi sangat penasaran apa sebenarnya yang difikirkan oleh laki-laki. Jatuh cinta saja tidak cukup untuk membuat seseorang pria yakin menikah dengan kita. Begitupun sebaliknya, dilansir dari yourtango.com, Kamis (7/9/2017) berik...

Ketika Perempuan Bersuara

- Perempuan Bersuara - Menjadi perempuan yang bersuara dan berpikir kerap dianggap hal yang aneh, dianggap banyak bicara, lebay, suka protes, banyak maunya. Padahal saat perempuan bersuara berarti ada ketidakadilan disekitar mereka, ada ketidaknyamannya yang menindas mereka dan perempuan ingin memperbaikinya. Raden Dewi Sartika dibukunya “meluruskan yang keliru dan menguatkan yang lemah”. Namun hingga saat ini perempuan selalu dibatasi, dianggap hanya sebagai pemanis, perempuan berpendapat selalu dianggap hanya angin lalu, masyarakat selalu menganggap perempuan tak bisa berpikir rasional, pemikiran perempuan selalu dilandasi emosional dan terbawa suasana. Karena banyaknya respon negatif pada perempuan yang bersuara membuat perempuan lain diluar sana lebih memilih untuk diam. Menerima segala penindasan serta pelecehan yang ada. jika sama sama kita lihat pada tahun 1965 kasus Perempuan selalu sama - pelecehan dan penindasan - bahkan semakin bertambah. Maka, dari keberanian per...

Mencoba untuk tidak mempermaslahkan jerawat sekecil apaun karena Cantik adalah Hak Perempuan

#repost@gothdiana  Banyak sekali Para wanita yang selalu mendambakan kulit putih, wajah berseri, bebas jerawat, komedo, langsing, tinggi.  sehingga menjadikan standar kecantikan Perempuan hanya dinilai dari seberapa mulus kulit wajah. Selain membuang buang uang, hal ini pun sangat membuang buang waktu perempuan untuk berhias sebelum keluar rumah, mau atau tidak perempuan harus sabar menghabiskan waktunya berjam jam hanya untuk berhias agar dapat dikatakan cantik.  Dengan begitu, banyak sekali produk kecantikan yang menjanjikan efek Putih, berseri, bebas jerawat  tampil cantik dan merona. Kecantikan Wanita sekan berkiblat pada seberapa indah lukisan alis atau seberapa merona lipstick yang digunakan. Banyak kemudian wanita lupa, cantik tidak semata didefinisikan oleh indahnya paras. Ada kepribadian indah yang juga memainkan peranan penting pada definisi " Wanita Cantik " Tulisan ini, berawal saat saya membaca caption dari @gothdiana di Instagram Me...