![]() |
| www.instagram.com/#MugshotChallenge |
Tulisan ini berawal dari unggahan
snap wa saya, yang me-posting video adik lucuku dengan mengungkapkan rasa rindu
berMake-up ala ala yang sedang ramai di Instagram, yaitu MugshotChallenge. Lalu sedikit banyaknya saya di education oleh
senior saya di lingkar Feminis tentang hal ini. Setelah banyak yang ia jelaskan
saya mulai searching akun-akun, artikel, opini , dan lain sebagainya prihal
ini.
Mungkin, Sahabat-sahabtku belum
mengetahui apa si MugshotChallenge? Dan
apa tujuannya?. Saya sedikit menginformasikan bahwa MugshotChallenge adalah foto yang diambil polisi ketika seseorang
ditangkap dan terlibat dalam kasus. Kemudian, sekitar seminggu yang lalu ada
beberapa influencer membuat konten Challenge
Mugshot mengajak pengguna untuk berias wajah seperti penuh luka lebam atau
berdarah. Pengguna kemudian mengunggah foto wajah yang sudah dirias tersebut ke
akun social media pribadi (Instagram, wa, facebook, Twitter, Telegram,) dengan
menggunakan #MugshotChallenge dan
caption seperti “KDRT”, “digebukin Mantan”, atau ada pula dengan nada canda “jadi
gini, impact nahan rindu berminggu-minggu”.
dan ternyata banyak yang suka dan tertarik dengan konten ini.
Sahabat-sahabat bisa searching menggunakan #MugshotChallenge
maka akan muncul beribu-ribu akun yang mengikuti konten ini.
Namun, konten ini memiliki respon
negative. Contohnya, salah satu artis Twitter, ia dianggap kurang sensitive,
tidak bertanggung jawab dan dianggap mengecilkan kekerasan dalam rumah tangga.
Salah seorang Netizen Twitter juga mengatakan bahwa MugshotChallenge mengingatkan pada dua operasi hidung yang harus ia
lakukan akibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alaminya. Next, pada salah satu akun Influencer di
instagram mendapatkan komentar dari netizen yang membuatnya mengingat kembali
trauma yang ia alami. Akhirnya ia membuat klarifikasi dan meminta para
followersnya untuk take down postingannya karena mungkin kita belum terlalu
mengerti karena kita gapernah di posisi korban abuse, mau sekeren apapun
makeupnya, ga worth it kalau membuat
orang lain sedih atau sakit. Aku gak nyangka impact nya sampai seperti ini, aku
juga merasa aku punya platform sebesar ini justru mengajak ikut trend yang
kurang baik, maafinaku sekali lagi dan aku akan berusaha jadi lebih baik. –klarfikasinya-
Komisioner Komnas Perempuan, Mariana
mengatakan “Mugshotchallenge dan
unggahan tersebut tak masalah sepanjang tidak untuk menghapus empati terhadap
kondisi-kondisi serius. Namun ia berpendapat, public juga perlu belajar dan
berlatih terus menerus untuk berempati”.
Komisioner Komnas Perempuan, Siti
Amniah Tardi menilai MugshotChallenge
itu tak sensitive pada korban kekerasan. Namun ia mengakui, sebagai ekspresi,
tantangan Mugshotchallenge itu tak
bisa dilarang. Meski demikian, yang perlu dibangun dari public adalah kepekaan
dan control diri termasuk dalam mengikuti tantangan ini. Ia pun mengajak
warganet untuk memilih tantangan yang lebih mempertimbangkan perasaan korban
keberpihakan untuk menghapus kekerasan.
“ Dengan memilih tantangan yang
tidak mengandung pembenaran terhadap kekerasan, berarti kita menghentikan
budaya kekerasan “,-
Mungkin, sebagian kita menganggap
ini sebagai kreativan saja, kenapa dilarang-larang? Dan mengapa pesta kostum
atau film action, thiriller tidak masalah? Jelas, karena ada disclaimer, ada
tujuan sendiri untuk kebutuhan tertentu. Sedangkan dalam tantangan #MugshotChallenge itu hanya sebuah tantangan babak belur,
berdarah-darah, dan dengan bangganya membuat caption betapa kerennya menjadi kriminal,
habis membunuh mantan, ada pula yang membuat caption “Mental disorder”. Tanpa ada
empati kepada pemilik mental disorder
yang memang membutuh pertolongan.
Sahabat-sahabat, saya mengerti
bahwa kita semua jenuh, bosan, ingin keluar rumah, ingin bertemu teman,
kekasih, kerabat, guru dan lain-lain. Sehingga dari demikian kita melampiaskan ini
semua di social media dengan segala ke kreatifan kita semua. Hal ini sama
sekali tidak dilarang, hanya saja kita semua harus belajar menggunakan ini
dengan sebaik-baiknya tanpa perlu ada yang merasa sedih atau sakit karena
sesuatu yang kita posting. Sesekali mungkin sebelum tidur kita merenungi ,
bagaimana jika kita yang menjadi korban KDRT, kekerasan seksual,kriminalitas
yang habis babak belur dan berdarah- darah sehingga mengalami trauma yang
begitu dalam. Bukankah, dengan kita melihat foto itu kita akan mengingat
kembali kejadian tersebut?

Terus menebar hal positif seperti ini ka🙏. Ceritnya bagus
BalasHapus