![]() |
| Foto: Digabah.com |
Rumi Mengatakan :
Cinta dapat menjadikan sesuatu tampak menawan, Tapi, yang tampak menawan tidak selalu menyebabkan CintaBanyak sekali Mereka yang bertanya Apa itu cinta?, lalu bagaimana bentuk cinta? , Dimana itu cinta, bahkan, siapa itu Cinta? Namun tanpa ia sadari Cinta selalu ada dan melekat pada dimensi Batinnya.
dengan Cinta pula yang membedakan manusia dengan manusia, Jika kita lihat secara fisik Nabi Muhammad dengan Abu jahal mereka sama, Namun jika kita lihat secara dimensi batin, Hanya Muhammad lah yang di katakan Manusia.
Pada Persoalan Cinta, akal tidak lagi berdaya. Contoh kisah Laila dan Majnun ( Seorang Pria bernama Quois dikatakan gila karena cintanya, Laila)
Suatu ketika Seekor Anjing dari kampung laila menghampiri Quois, akhirnya Quois mengejar anjing itu dengan harapan perantara anjing ini dapat mempertemukan pada kekasihnya, laila. Tanpa sadar majnun melewati sekelompok orang yang sedang sholat, usai mereka sholat menegor manjnun " Hai majnun, apa kau tidak melihat kami sedang sholat? dan mengapa kau tidak ikut kami sholat?" " Demi Allah, saat kalian sedang sholat berjamaah aku sama sekali tidak melihat kalian, kenapa? karena hatinya hanya fokus pada anjing dan yang ia cintai laila. bila kalian benar benar Cinta pada Allah sebagaimana diriku cinta pada Laila, Pasti kalian tidak melihat Aku, Padahal kalian sedang bercinta dengan Allah, tapi mengapa kalian masih memperhatikan diriku "
Inilah cinta, saat dirinya sudah tidak berdaya dengan sesuatu apapun selain kekasihnya, bahkan saya pun pernah membaca "sebelum filsafat" Cinta membuat kita berada pada dimensi "Aponia". "Aponia" (bahasa Yunani Kuno: ἀπονία) adalah istilah dalam filsafat yang berarti ketiadaan rasa sakit. Epikuros dan para pengikutnya menganggap aponia sebagai kenikmatan jasmani tertinggi.Kenikmatan jasmani akan terus bertambah hingga rasa sakitnya sudah hilang sepenuhnya.Setelah itu, kenikmatannya sudah tidak bisa ditambah lagi, sehingga secara rasional manusia tidak bisa mencari kenikmatan jasmani yang lebih dari aponia.
https://t.co/i9IypAWxFA
itulah, cara kerja Cinta berbeda dengan akal, dan mengapa saya katakan " Ketidakberdayaan Akal dalam cinta " Kritiknya Hendribergson mengenai Akal :
1. akal itu bukan satu-satunya kemampuan manusia untuk mengenali realitas. Alat indra manusia itu banyak. Hanya saja pengaruh sains yang positivistik (pasti), banyak alat dalam diri manusia (Nurani, Naluri, Imajinasi) jadi,kita punya banyak akal hanya saja selama ini tidak banyak kita elaborasi -padahal penting-
2. Akal ini sifatnya matematis/terbatas , lebih cenderung pada hal yang teknis bahkan Akal tidak mengerti dimensi hakikat dan tidak bisa menyelami hakikat kenyataan, yang akal paham itu Lapar ya makan, Aus ya minum, dia tidak mengenal esensi cinta,
jika ada teman yang butuh uang, akal akan mengatakn butuh uang ya kerja, namun cinta akan mengatakan bantu ia jika kau bisa, lebih cenderung pada pendekatan Nurani dan Naluri.
3. Akal itu sifatnya butuh data kuantitatif pada lainnya. Ada data yang bisa dibaca dan yang tidak bisa dibaca akal akan direct bingung dan butuh kejelasan.
Pada level-level tertentu akal banyak tidak berdaya, akal hanya sampai pada hal-hal material, bahkan dimensi psikispun dia tidak percaya. Disini Hendribergson mengatakan bahwa akal ini penting namun dia terbatas.
Begitupun cinta, jika cinta hanya terbesit pada akal, maka akal akan sangat sulit mendeskripsikan apa itu Cinta, karena esensinya akal hanya mengerti hal-hal yang berbau material.
Sedangkan Jalaludin Rumi mengatakn bahwa tanda tanda cinta itu ketika kita tidak lagi egois dan tidak lagi mengharapkan keuntungan apapun, ikhlas dan tidak minta balasan adalah tanda tanda cinta.
Salam Penuh Cinta,
semoga penulis dan pembaca setia selalu berada dalma Cinta sang Maha Cinta.

Komentar
Posting Komentar