Langsung ke konten utama

Kemajemukan Harus bisa diterima tanpa adanya perbedaan, inilah IPNU, IPPNU, PMII kab. Bekasi

Kader IPPNU DAN PMII KAB. Bekasi
Oleh : Reesti Mauliddiana Purnama Permata Sari


Kemajemukan harus bisa diterima tanpa adanya perbedaan, inilah IPPNU dan PMII

Setiap kelompok yang menginstitusikan diri, selalu dan pasti, memiliki visi dan misi yang baik; minimal baik untuk organisasinya, dan maksimalnya dapat memberikan sumbangsih manfaat untuk khalayak publik, bangsa dan negara. Dalam konteks keorganisasian, organisasi khusus kepemudaan, juga memiliki tampilan yang mirip. Ketika didirikan, ia memiliki visi dan misi yang ideal, bahkan dilandasi dengan ideologi yang disetujui dan menjadi kesepakatan bersama. Selanjutnya dalam perjalanannya pasti akan ada pasang surut. Ini layak masuk akal dan manusiawi.

Organisasi seperti PMII misalnya, selain wadah untuk menampung mahasiswa nahdliyin, melakukan proses kaderisasi yang membangun dan mengembangkan potensi kader, agar dapat berguna bagi bangsa dan negara (juga mendukung hidup), juga menyediakan fanatisme organisasi (ideologi); yaitu " PMII lebih baik dari HMI, KAMMI, IMM, dan lainnya. Lebih mungkin juga lebih baik dari IPNU / IPPNU, yang dalam sejarahnya dikembalikan dari rahim yang sama". Ya, jika perasaan ini yang dikedepankan, pasti! Kita tidak akan bisa bersinergi, dan pasti ini sangat merugikan kita.

Keanekaragamaan dalam berorganisasi adalah hal yang biasa. Tapi yang bisa menerima keanekaragaman tanpa perbedaan adalah hal yang sangat luar biasa.Jika perbedaan selalu memisahkan, maka mulai saat ini Sahabat/i bisa belajar melalui kata-kata Gus Dur. Beliau mengungkapkan bahwa semua perbedaan harus bisa diterima. Keanekaragaman itu sebuah keunikan dari Indonesia yang terdiri atas banyaknya pulau dan beraneka ragam suku, agama, dan adat istiadat. Sebab itu, Perbedaan yang ada dalam organisasi, dimanapun kita berproses seharusnya tidak bisa menghentikan persatuan dan kesatuan dari negara Republik Indonesia.

Kemarin, 28 Desember 2019, kini IPNU, IPPNU, dan PMII bersinergi bersama menyongsong dan menyukseskan Konfercab NU di Kab. Bekasi. Semoga apa yang kita inginkan untuk perbaikan ditubuh PC NU Kab. Bekasi 5 tahun kedepan sesuai harapan kita sebagai kader muda Nahdiyin Kab. Bekasi.

" IPNU, IPPNU dan PMII itu saudara kandung, tapi kami lebih banyak saling acuhnya ketimbang saling kerjanya. Di lain sisi, kami juga meminta orangtua kami, yakni NU untuk membantu mendekatkan kami, yang anak-anak mereka. " Kiranya inilah Harapan kami Untuk 5 Tahun Kedepan.

indahnya perbedaan dalam kebersamaan!
#salamPergerakan
#salamPeradaban
#salamKebersamaan
#pmii #Ipnu #ippnu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRIA ITU MENGAJAKKU MENIKAH? SECEPAT ITU? PADAHAL KITA TAK SALING KENAL? MENGAPA?

https://www.islampos.com/aku-menginginkan-istri-sholihah-40597/ Dia dengan cepat mengajakku menikah, walaupun kita belum saling kenal dan bertemu satu sama lain. Kita hanya berteman via online, namun beberapa kali ia memintaku bertemu dan mengajak nikah. Spontan, saya berfikir “ Lho, apa yang pria itu fikirkan? Mengapa dia punya niat menikahi ku? Padahal dia hanya sebatas followers ku saja “.   Semua pertanyaan seolah terproduksi dalam fikiran saya. Hingga pada saat yang bersamaan, saya mencoba diskusi mengenai hal ini bersama Ketua PC PMII Kab. Bekasi masa Khidmat 2019-2020, Sahabat Dedi Ambaryadi. Saya bertanya beberapa hal yang ada di fikiran saya, dan mengapa disini saya mengajak laki-laki untuk berdiskusi? Ya, Karena saya pribadi sangat penasaran apa sebenarnya yang difikirkan oleh laki-laki. Jatuh cinta saja tidak cukup untuk membuat seseorang pria yakin menikah dengan kita. Begitupun sebaliknya, dilansir dari yourtango.com, Kamis (7/9/2017) berik...

Ketika Perempuan Bersuara

- Perempuan Bersuara - Menjadi perempuan yang bersuara dan berpikir kerap dianggap hal yang aneh, dianggap banyak bicara, lebay, suka protes, banyak maunya. Padahal saat perempuan bersuara berarti ada ketidakadilan disekitar mereka, ada ketidaknyamannya yang menindas mereka dan perempuan ingin memperbaikinya. Raden Dewi Sartika dibukunya “meluruskan yang keliru dan menguatkan yang lemah”. Namun hingga saat ini perempuan selalu dibatasi, dianggap hanya sebagai pemanis, perempuan berpendapat selalu dianggap hanya angin lalu, masyarakat selalu menganggap perempuan tak bisa berpikir rasional, pemikiran perempuan selalu dilandasi emosional dan terbawa suasana. Karena banyaknya respon negatif pada perempuan yang bersuara membuat perempuan lain diluar sana lebih memilih untuk diam. Menerima segala penindasan serta pelecehan yang ada. jika sama sama kita lihat pada tahun 1965 kasus Perempuan selalu sama - pelecehan dan penindasan - bahkan semakin bertambah. Maka, dari keberanian per...

Mencoba untuk tidak mempermaslahkan jerawat sekecil apaun karena Cantik adalah Hak Perempuan

#repost@gothdiana  Banyak sekali Para wanita yang selalu mendambakan kulit putih, wajah berseri, bebas jerawat, komedo, langsing, tinggi.  sehingga menjadikan standar kecantikan Perempuan hanya dinilai dari seberapa mulus kulit wajah. Selain membuang buang uang, hal ini pun sangat membuang buang waktu perempuan untuk berhias sebelum keluar rumah, mau atau tidak perempuan harus sabar menghabiskan waktunya berjam jam hanya untuk berhias agar dapat dikatakan cantik.  Dengan begitu, banyak sekali produk kecantikan yang menjanjikan efek Putih, berseri, bebas jerawat  tampil cantik dan merona. Kecantikan Wanita sekan berkiblat pada seberapa indah lukisan alis atau seberapa merona lipstick yang digunakan. Banyak kemudian wanita lupa, cantik tidak semata didefinisikan oleh indahnya paras. Ada kepribadian indah yang juga memainkan peranan penting pada definisi " Wanita Cantik " Tulisan ini, berawal saat saya membaca caption dari @gothdiana di Instagram Me...